Bus di Vietnam cukup nyaman, hm maksud saya sangat nyaman dibanding dengan bis-bis kota reguler yang pernah saya naiki di kota lain di Asean termasuk Jakarta atau Tangerang. Mirip di Bangkok, ada bell yang boleh dipencet kapan saja dimana saja tanda penumpang pengen turun. Yep. Turun sembarangan. Di selokan juga boleh kali yah, heran. Tapi untuk urusan kenyamanan boleh lah yah...
By the way, sebagai apresiasi untuk para malaikat penolongku di bis ini, ak ajak mereka ngobrol. Percobaan pertama bilang makasih (Cam ón dlm Tieng Vet), accepted. Ajak ngobrol Inggris, no English. Ok. Done. Skakmat. No more. Hahha
Mas-masnya, aku bilang makasih. Accepted. Malah dia tanya dalam bahasa Inggris, where are you from? Aha! Indonesia. Cool. 'And you?' 'I am from Malaysia'. (Dalam hati Oooo, dan $#//!&@&^@ ya elaaahh, kirain orang Vietnam gitu). Aku tanya sering ke Vietnam berarti ya (takut miskomunikesyen kami cakap dalam English). Tidak, baru pertama kali. Aku heran kok bisa ngerti mak yang teriak risau itu bilang apa. Ternyata dia juga gak ngerti bahasa Viet. Hahaha mungkin ada ikatan batin antara emak-emak itu dengan kawan Malay ini. Tapi orangnya baik kok. Salut.
Lebih salut karena dia belum tahu mau turun dimana, nginep dimana dst. Secara gw prepared (walaupun suka amnesia ringan ;)), gw bilang kalau aku udah booking online dengan harga bagus di daerah Pham Ngu Lao, Distrik 1, HCMC. Dia juga pengen liat daerahnya kayak apa.
Di dalam bis aku mengagumi kota Ho Chi Minh yg gak pernah aku kebayang sebelumnya. Yahh, dalam pikiranku pasti gaya-gaya kayak kota Asia lah. Bagus.... tapi umpek-umpekkan. Ternyata oh ternyata, tidak demikian. Kotanya rapi, asri, jalan luas dan trotoar lapang ditumbuhi pepohonan asri yang di tanam sama Perancis abad 18. Cuman..... ada cumannya.... di title selanjutnya.

0 comments:
Post a Comment