Malam hari pertama, saya bersama temen yang secara heroik sudah menolong saya itu coba lihat-lihat area yang cukup familiar dikalangan Turis, apalagi turis rambut item alias Asia. Si Syamil cerita kalau orang malaysia gemar banget belanja di sini karena harganya miring. Dengan hipotesa itulah kami bergegas cari lapak yang pas untuk cari oleh-oleh atau suvenir.
Pasar malam Benh Than (aduh ribet spelling bahasa Vietnam, nanti aku rapikan yah, untuk sementara aku tulis sekenanya dulu) itu cukup meriah. Segenap bangsa turis... baik dari rambut ijo, merah, kuning atau hitam memadati kawasan beberapa ratus meter ini. Pasarnya keliatan unik dengan arsitektur Perancis dan ada tower Jam besar di bagian depan. Letaknya strategis, karena boleh di bilang di pusat kota dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit modern. Rame dan asik banget lah terutama buat yang suka keramaian. Oh iya, tidak lupa, pasar ini juga dimeriahkan oleh hm hm hm sepeda motor yang nyelip diantara para pejalan kaki yang lagi sibuk belanja atau jalan-jalan. Speechless lah gw. Gak tahu mau seneng apa sebel. Lucu aja sih. Hahaha.
Sebenernya aku anti belanja di hari pertama jalan-jalan. Tapi karena si Syamil sang traveller anti rencana perlu jeans dan itu urgent (tepok jidat), maka oke deh sekalian aku anterin cari makan. Sekalian servey harga untuk cariin oleh-oleh (huss gak usah senyum-senyum bacanya) buat kawan-kawan di Indonesia. Syamil udah ada tempat target, karena kakaknya, sodaranya, kawan2 sedinastinya udah tahu tempat 'murah' buat cari jeans. Namanya Lina shop. Harganya sekitar 35an ringgit. Yep. Para pedagang Vietnam di area banyak turis melayani pembayaran dengan Dong, Ringgit atau Dollar. Kalau gw pilih Dong aja deh, biar gak ribet2 mau konvert nilainya.
Giliran aku nanya-nanya barang-barang lain (nama barang dirahasiakan supaya surprised). Akhirnya kami punya satu kesimpulan, ralat, dua kesimpulan kayak gini:
1. Harga di area ini overprice (alias dimahalin secara gak wajar).
2. Kalau nawar harus berani (jangan kalau keroyokan aja berani, haha). Patokannya, sikut harganya sampai 20 persen harga yang ditawarkan. Misal kalau mbak atau masnya bilang 100 ribu Dong. Tawar abiz sampe setuju 20 ribu. Kalau mbaknya gak mau, nothing to loose. Sadiss...
Kami makan di rumah makan orang Champa yang notabene suku minoritas Vietnam buat dapet makanan halal. Setelah itu keliling-keliling buat nandai jalan (I mean supaya besok klw jalan gak ilang) dan menikmati sejuknya hawa malam Ho Chi Minh. Pokoknya my favourite part adalah taman-tamannya yang bagus n banyak kursinya. Selain city viewnya yang memanjakan hati pemirsa.
Sampai hotel disambut oleh Kuang dan Chung (masih inget kan) dengan sapaan Xin Chào (what's up broo/ sis dlm bahasa Vietnam. Dan temen-temen bule pun bertambah di ruangan hostel. Apa saja kegokilan yang akan terjadi? Next title has the answer.

0 comments:
Post a Comment