Yang pasti desain, konsep dan wujud fisik medan tempur ini kece abiz. Selain itu, bro/sis juga bisa menikmati berbagai pajangan plus penjelasan tentang jebakan maut dan peralaatan perang masa itu. Belum puas juga, bro/sis bisa ikutan nembak (ini beneran loh yah, bukan pake semprotan air atau gedebog pisang haha) di lapangan tembak yang memang dipake biat rekreasi semua orang.
Jadi pas masuk arena wisata historis ini, kita bakalan dapet briefing beberapa menit tentang deskripsi dan sejarah tempat ini. Ada semacam aula gitu dimana kita bakal disuguhin video jadoel nan singkat tentang Perang Vietnam supaya kita dapet bayangan kayak apa tempat itu selama masa krisis itu. Berbagai perasaan campur baur pas nonton video itu. Ada rasa geli juga soalnya ini video kayak dari tahun 80an gitu dengan segala gayanya. Ada rasa salut n bangga pas ngeliat segitunya perjuangan rakyat Vietnam menentukan jati diri bangsanya. Ada juga rasa terenyuh melihat kenyataan manusia mesti menjalani perang sesengit itu buat bertahan hidup. So, anyway, video itu kasih cukup gambaran lah tentang kayak apa lokasi medan tempur Chu chi itu aslinya.
Selese video diputer, giliran sang pemandu wisata nerangin seluk beluk, model dan miniatur terowongan, sejarah n perkembangan terowongan ini. Salut banget lah buat pengembang wisata historis ini. They did such a good job buat membawa kita biar paham soal tunnel ini. Jadi worth it kita ke sini dan ngerti tentang tempat ini selain sekedar asik-asik masuk keluar terowongan, de-el-el. Semoga aja hal yang sama dikembangin di Indonesia, dimana kawasan wisata terutama yang historis itu dilengkapi sama media atau pemandu yang buat pengunjung cukup tahu gitu.
Kelar briefingnya, kami mulai mengikuti sang guide buat menelusuri pajangan berbagai alat yang mereka pake sebagai jebakan maut. Yang ini seriusan jebakan maut. Dengan segala keterbatasannya, pejuang Viet memakai semua sumber yang ada alias tersedia buat gali jebakan, ditaruh besi dan sebagainya. Pokoke intinya, barangsiapa terjebak, pasti gak akan bisa keluar dengan mudah. Serem juga sih liatnya. Secara denger penjelasannya aja kebayang betapa sadisnya alat itu bekerja. Ada juga lubang-lubang buat sembunyi, sehingga mereka gak ketangkep sama musuh. Yang ini boleh dicoba sama pengunjung. Kebayang kan, serunya.
Titik berikutnya adalah titik buat nyobain masuk ke terowongan Chu Chi. Seperti yang tersirat dari bagian sebelumnya. Saya bareng-bareng dengan temen-temen bule nyemplung, merangkak dan berlabirin ria di bawah sana. Sebuah pengalaman seru yang mesti terjadi at least sekali seumur hidup. Kalau bro/sis daya petualangannya tinggi, pasti gak bakalan mau cuman nyoba sekali, paling gak dua kali atau lebih. Sembari jalan-jalan touring tempat ini, kita juga bebas mengajukan pertanyaan berhubungan sama tempat ini. Jadi pengalaman dapet, practical knowledgenya juga dapet.
Di bagian terakhir wisata ini, bro/sis yang pernah nembak tapi ditolak hahah, atau pas masa kecilnya berobsesi banget maen tembak-tembakan atau siapa aja yang mau membuktikan kelihaiannya membidik sasaran, bisa nyoba nembak. Ada ongkos yang harus dibayar sis, tapi pengalamannya gak akan terlupakan. Kalau gak salah 20 USD buat 6 peluru. Merasa tertantang?
Buat yang bawaannya pengen ke toilet mulu pas jalan-jalan, dun worry. Ada fasilitas restroom juga kok disini. Lumayan terawat sih menurut gua. Tentunya yang gua maksud toilet cowok yah. Kalau toilet cewek mana akika tahu. Wakakka.
Ternyata persahabatan gua sama GL dan Shaked(nya tuh disini) masih berlanjut sampai hari ini. Malemnya kami janjian untuk ngrayain Tahun baruan bareng-bareng dengan temen-temennya. Kayak apa yah jadinya? Hehehe. Baca bagian lanjutannya
Part 23 --- Apa yang seru di Wisata Chu Chi tunnel?
Wednesday, July 8, 2015
Part 22--- Terowongan Chu Chi yang mencengangkan
Alkisah setidaknya ada dua bangsa yang belum beruntung untuk menaklukan bangsa Vietnam: Amerika dan Mongolia. Dua karakter yang dimiliki bangsa Viet membuat mereka gak bisa dikalahkan gitu aja. Mereka super ulet dan gak mau nyerah dengan keaadaan sekitar. Kedua, mereka selalu maen taktik. Ingat kan film Red Cliff, dengan Zu Ghe Liangnya yang mahir dalam strategi perang. Begitu juga ahli perang Vietcong dalam menggunakan sistem terowongan ini. Supaya lebih seru, di edisi kali ini, gua akan mengajak bro/sis buat menelusuri terowongan perang ini dengan:
10 Fakta mencengangkan dari Terowongan Chu Chi versi gua sejauh pengamatan gua selama di sini yah:
1. Terowongan ini di bangun belasan tahun sebelum perang Vietnam
Menurut informasi yang gua dapat pas baru masuk kawasan terowongan, sebenarnya terowongan ini gak dibangun sengaja untuk perang Vietnam tahun 70an. Justru cikal bakal terowongan ini udah bisa di lacak sejak mereka pengen lepas dari cengkraman kekaisaran Tiongkok selatan, penjajahan Perancis dan perjuangan kemerdekaan. Tapi memang, terowongan ini baru dikerjakan lebih intensif dan besar-besaran pada masa perang gerilya melawan Perancis, hanya dengan alat seadanya, cikrak (atau sekop dari bambu) secara gotong royong. Hingga waktu perang sama Amrik, medan ini bener-bener 'dipake'.
2. Terowongan Chu Chi punya empat lapisan ke bawah
Pas awalnya denger tentang terowongan Chu Chi ini, gua ngebayanginnya kayak goa panjang buat ngumpet atau kabur atau sembunyi gitu kalau kumpeni mampir bawak granat. Atau paling gak kayak terowongan rel kereta api atau kereta tambang yang memanjang lurus gitu. Nyatanya gua salah. Gak cuman salah, tapi salah besar. Chu Chi tunnel ini lebih mirip labirinth. Ada jarak horizontal dan jarak vertikalnya. Mirip lubang ular yang super besar dan jauh. Gak kebayang mereka bisa bangunnya gimana. Setiap beberapa ratus meter ada rute keluar. Dan gak hanya sejalur atau selapis. Tapi berlapis-lapis. Berapa lapis? Ratusan. Hahah. Becanda. Kalau itu T*ng*. Kalau terowongan ini paling banyak 4 lapis. Di lapis kedua dan ketiga mereka buat bangsal atau ruangan yang cukup besar buat tentara, pengungsi dan lain lain. Jenius.
3. Terowongan Chu Chi hanya bisa ditembus dengan merangkak
Emang seru sih kalau denger-denger atau baca mengenai sejarah dan kondisi terowongan yang masih maknyus sampai hari ini. Lebih seru lagi apa coba? Yep, bener. Nyobain masuk ke dalam terowongan legendaris ini. Setelah mengerti dua fakta diatas, sudah cukup membuat saya super penasaran dan grogi di waktu yang bersamaan. Gimana coba kalau gua ilang di tengah-tengah jaringan labirin terus munculnya di tepian sungai Saigon hahhaha (kebanyakan ngayal nih gua). Nah, untuk masuk ke terowongan ini biasanya gak disaranin sendiri. Pas waktu itu aku nyoba beramai-ramai sama bule dari berbagai belahan dunia. Beugggh. Beneran aja, bisa sih jalan. Tapi ada dua pilihan: squat atau merangkak. Serunya bukan maen, tapi deg-degannya bukan maen. Gelap, adem dan seperti tanpa ujung. Modalnya iman, kalau somehow kita bakalan ketemu bunker atau pintu ke permukaan. Jelaslah pengalaman kayak gini gak cukup cuman sekali nyoba. Gua nyoba lagi buat masuk ke yang lebih dalam. Percaya deh pas kita tahu bisa masuk ke lapis kedua atau tiga, rasanya puas dan bangga banget. Suer.
4. Hanya penduduk setempat dan orang lokal yang tahu dimana pintu keluar dan masuk terowongan.
Seseru-serunya masuk terowongan Chi Chi, bro/sis mesti sadar kalau ini adalah ranah perang. Zaman dulu, akses dan deskripsi terowongan ini di jaga kerahasiaannya. Hanya mbah buyut, anak cucunya dan orang Vietcongnya lah yang mengerti seluk beluk dan rute terowongan ini. Yah, walaupun gua udah dibriefing puluhan menit tentang sistem pertahanan perang tunnel ini, tetep aja gak begitu ngeh mengenai rute pastinya. Tapi tenang bro/sis, sekarang sebagian kecil wilayah ini udah divermak jadi zona wisata yang artinya akses dan jaringan terowongan ini diberi penanda dan fasilitas yang buat kita yakin bisa masuk dan keluar dengan bener dan gak nyasar.
5. Terowongan Chu Chi sempat jadi klinik, bunker dan sekolah selama perang
Pertama kali gua baca ini sebelum kesana gua juga kaget. Masak sih? Nah itu dia, makin bikin gua bayangin kalau terowongan itu kayak cave gitu. Ternyata di bawah sono mereka buat ruang-ruang yang cukup besar buat muat ribuan orang dan mereka bisa beraktivitas darurat selama perang. Pasti tentara musuh pada bingung yak, kemana sih, orang-orang di daerah itu kok sepi amir.
6. Saking jeniusnya, Chuchi tunnel mirip seperti sistem kastil
Entah dapet ide dari mbah buyut yang mana, sistem tunnel ini emang super jenius. Mereka bisa buat terowongan ini bukan sekedar petak umpet sama kumpeni Eropa. Di banyak bunker dan ruang bukaannya, mereka bisa simpan persediaan senjata, ngumpul-ngumpul, ngerawat tentara yang luka, bahkan ada dapur umumnyo pulak. Di tunnel yang sama juga mereka punya akses bawah tanah yang nyambungin pusat kota sama medan perang. Ckckck. Gak bisa menahan decak kagum deh pokoknya buat kejeniusan macam itu.
7. Ada jalur terowongan ini yang tembus ke Sungai Saigon di pusat kota.
Seperti yang udah bocor di poin yang ke enam, mereka juga bikin akses-akses yang tiba-tiba ngejendul di pinggir sungai Saigon. Jalur inilah yang mereka pake buat suplai senjata sama mengurusi tentara yang terluka.
8. Musuh gak pernah sadar kalau ada terowongan itu sampai beberapa lama.
Para tentara negeri paman Sam sering kewalahan di medan perang ini. Mereka bener-bener frustasi dan bingung mau bilang apa. Ungkapan kekesalan mereka menggema sampe pada masanya adalah, "They are nowhere but they are everywhere." (terjemahan: mereka keliatannya gak ada, tapi seolah-olah ada dimana-mana). Kerugian fatal dialami oleh mereka secara mereka mesti menghadapi seribu satu jebakan maut ditambah serangan mendadak dari musuh yang gak bisa mereka lihat. Baru setelah sekian lamanya, mereka sadar kalau musuh mereka membuat banyak tempat ngumpet, dan banyak banget diantaranya ada di bawah tanah.
9. Pihak musuh sempat menggunakan bahan kimia untuk menghabisi riwayat terowongan ini.
Setelah mereka sadar mengenai sistem terowongan ini, mereka ada sedikit harapan untuk menguasai medan perang. Tapi gak segampang itu bro/sis. Mereka mesti menghadapi ribuan ranjau dan jebakan maut, musuh yang susah dilihat dan ketidakmengertian mereka tentang akses keluar, masuk tunnel. Setelah putar otak sangat keras dibantu sama ilmuan Jerman, mereka memutuskan buat ngeracunin tunnel. Tapi inipun gak berhasil. Gegara rumitnya sistem tunnel itu, gak ada bahan kimia yang nyampe ke bagian yang ada penghuninya. Ditambah lagi pihak Vietnam tahu gimana ngehandlenya. Faktor lainnya yang fatal itu, pihak musuh suka salah taruh obatnya. Yah, jadi gak ngefek deh.
10. Di sekitar permukaan terowongan, ratusan ribu perangkap mematikan di pasang.
Fakta inilah yang membuat terowongan ini awet dan susah dijangkau musuh. Secara banyak lawan yang bakalan udah terluka parah begitu mereka nyampe di depan pintu masuk terowongan (yang jumlahnya bukan cuman satu tapi banyak). Belum lagi, mereka juga harus menghadapi kebengisan para penjaga di sekitar pintu masuk terowongan. Beberapa puluh tahun yang lalu terutama pas berakhirnya perang Vietnam, sebagian besar lokasi ini udah disterilkan dari ranjau dan jebakan maut. Tapi, siapa tahu juga sih masih ada yang keselip alias ketinggalan, so lebih baik nguntilin sang pemandu wisata deh, biar aman. Kan gak lucu kalau maksa ngebolang sendiri terus (amit-amit) kena ranjau atau masuk perangkap. Jangan paranoia dulu yee, pastinya kalau di kawasan wisatanya udah terjamin cukup aman.
Part 21--- Perjalanan ke Medan Tempur: Lautan Maha Karya di desa Chu Chi
Selama perjalanan dari pusat kota Saigon ke bekas medan tempur Chu Chi, bus kami sempat terhenti dua kali. Tenang, bukan masalah besar kok. Cuman mau isi bensin. Hahah. Lumayan lama sih berhentinya karena seperti di Indonesia, momen yang dipersembahkan oleh agen tur itu pasti digunakan oleh beberapa manusia yang susah nahan pipis. Mereka terseok-seok lari cari kamar mandi. Doain aja yah pas disana gak mesti ngantri. Sayangnya, gua lupa nglirik harga bahan bakar di sana. Duh. Coba kalau sempet, khan seru juga buat dibandingin sama harga di negeri kita. Pasti karena gua terpukau, terkesima atau apalah itu sama pemandu wisata dan temen-temen baru gua di bus itu. Jadi lupa nuansa dan kondisi disekitar jalan.
Baru setelah si GL dari Timteng itu ketiduran, gua sempet perhatikan jalan-jalan di sekitar bus yang sedang melaju dengan cepatnya. Suasananya mirip kayak kalau kita lewat Sumatera, hmm Lampung khususnya. Setelah menerobos keluar kota, wilayah peladangan semi hutan menyapa. Wah, kalau di kampung halaman mah, wilayah seperti ini bisa jadi ladang begal. Cuman di sini auranya aman-aman aja. Gak tahu juga sih kalau menurut warga lokal. Nah, semoga bro/sis ngeh yah kenapa aku gak saranin ke tempat ini pake cara sendiri. Tar ilang loh, di tarik semut diantara pepohonan jati atau waru. Sekilas terbayang betapa wilayah ini begitu rumit buat dijadikan wilayah perang. Daerah delta dialiri sungai besar yang agak berlumpur gitu. Tapi jalan rayanya bagus kok. Cukup terawat kayak gua (halah).
Sesekali gua juga lihat pekuburan Vietnam. Ada yang berkelompok, ada juga yang di ladang punya keluarga gitu. Kuburannya khas Vietnam dengan nisan yang mirip gapura kotak mirip mahkota kaisar dewa naga di film Sun Gokong. Dari situ gua tahu, walaupun secara nominal Vietnam itu negara berasas komunis, mereka mempersilakan warganya menganut agama nenek moyang. Keliatan dari pernak-pernik dan benda-benda yang mengitari kuburan.
Wedew. Kenapa jadi ngomongin kuburan yah. Hehehe. Beberapa menit kemudian si GL dari Timteng kebangun. Setelah ngobrol bentar, bus kami berhenti lagi buat kedua kalinya. Kali ini bukan buat toilet atau isi bensin, tapi di sebuah bangunan yang mirip terminal cuman lebih besar. Si Steve menjelaskan bangunan apa itu.
Ternyata bangunan itu adalah sejenis loka karya para veteran Perang Vietnam. Karena perang yang sangat gak imbang dan bengis, banyak warga, terutama para pria gerilyawan terluka dan mengalami sayatan permanen. Gak jarang, mereka harus kena amputasi. Dua dekade sebelumnya, banyak yang pasrah lantas jadi pengamen atau pengemis. Jumlah mereka gak sedikit. Tapi disitulah saya salut sama bangsa Vietnam. Mereka punya ide untuk menolong orang-orang ini supaya mandiri. Dibuatlah loka-loka karya macam ini seantero Vietnam. Mereka membuat keramik, lukisan dan cindera mata buat di jual. Ya, sih... Sebelum ke Vietnam gua sempet baca kalau sepuluh atau dua puluh yang lalu, banyak banget pengemis di sana, tapi pas kali ini gua gak ketemu sebanyak itu. Paling satu dua. Bukan pemandangan yang umum.
Begitu masuk ruangan yang kayak gudang pabrik besarnya itu, gua langsung amazed sama keindahan dan ke-wow-an hasil karya bapak-bapak veteran perang itu. Kita bisa yakin itu bukan sekedar cerita, secara di lokasi itu kita juga bisa lihat banyak dari para seniman itu lagi ngerjain karyanya. Liatin mereka buat karya seni dengan lincahnya aja udah membuat gua terinspirasi sama kegigihan mereka. Hasilnya kece badai kena angin topan plus halilintar. Nah, kurang apa lagi. Hahhaha.
Harga yang di bandrol juga sangat masuk akal. Ukurannya beragam, dari yang seukuran kantong atau seukuran pajangan dinding rumah atau kantor. Gua beli gak ya? Hm hm. Ya jelas.... Nggak lah. Secara gua kan irit bin pelit. Jadi seribu satu alasan gua buat supaya gua gak beli. Yang jelas gua masih baru juga beberapa hari disini, jadi masih mesti hati-hati gunain duit supaya bertahan sampai balik ke rumah. Selain itu juga, gua merasa bahwa gua ataupun tetangga gua, temen gua, adik tetangga gua, atau neneknya ataupun keponakannya belum terlalu perlu barang-barang itu. INGAT. Sekali lagi itu cuman alibi. Dalam hati gua udah ngiler pengen bawa pulang barang-barang kece yang cuman gua bisa dapetin di sini. Alangkah kecenya kalau temen gua bawain karya seni yang bagus banget kayak gitu.Tapi apa daya, gua gak mau bikin transaksi yang gak ada di anggaran.
So, belajar dari itu, tar kalau gua ke Chu Chi tunnel lagi, gua udah ngincer beberapa barang yang akan gua beli. Dan buat bro/sis yang mau jalan ke sana (hm hm naek bus maksudnya), ada baiknya siapin duit cukup yah kayak 400 ribu dong misalnya, buat dapetin barang-barang antik yang bagus banget dengan harga masuk akal.
Bentar lagi nyampe Terowongan yang diresmikan sebagai taktik perang paling jenius abad 20 itu. Siap? Di part selanjutnya tentunya.
Part 20--- Perjalanan ke medan Perang: Lucunya pemandu wisata di Bus
Krik krik krik begitu bunyinya... Kira-kira begitulah gua menggambarkan Steve, pria muda Vietnam yang mencoba melawak di bus. Jujur, kadang-kadang dia emang lucu sih.. Lucu banget. Nyelekit juga lucunya. Tapi asyiklah, sejauh ini menjadi salah satu penumpang di bus yang melaju di jalanan Ho Chi Minh ke desa Chu Chi ini. Murah senyum, baik dan kece, sang pemandu wisata gak cuman berusaha buat pemirsanya terhibur binti gak bosen; tapi juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis.
Misalnya nih ya, kenapa Amerika mesti terlibat di Perang Vietnam? Terus apa dampak perang buat ke dua belah pihak? Terus gimana sikap orang Vietnam pasca perang, khususnya terhadap rivalnya masa itu, AS dan negara-negara barat pada umumnya? Nah, kali ya, kalau ada mamang-mamang becak dari Palembang di bus itu , pasti bakalan bilang, "Keriting agek rambut mamang dek. Alangke susahnyo masalah...." (terjemahan: Bisa keriting ntar rambut abang, dek. Alangkah rumitnya masalah dunia akherot). Tapi belajar banyak sih dari pembahasan, ceramah, lawakan yang dia lontarin. Dari dia juga aku belajar, kalau secara umum masyarakat Vietnam menganggap perang itu sebagai masa lalu kelam. Masa lalu biarlah masa lalu, bagi mereka. Yang lebih penting memaafkan dan bangun dari keterpurukan. Pas denger itu, gak kerasa juga gua terenyuh. Ngebayangin betapa beratnya buat mereka apalagi kalau liat anggota keluarga mereka luka-luka atau cacat permanen akibat perang masih ada di rumah sampe hari ini.
So, balik lagi ke nuansa bus yang dipenuhi dengan kernyitan dahi, lalu digilir sama gelak tawa karena guyonan si Steve. Jadi ceritanya bus ini sebelum bener-bener keluar kota, jalan jemputin turis satu persatu. Nah, beberapa menit setelah bus jalan, gua sebangku sama mas-mas bule (muka sih mas-mas, tapi umurnya adek-adek, hehheh). Kami kenalan, ngobrol-ngobrol seru. Ternyata dia dari Timur Tengah. Nah, akhirnya aku cerita deh kalau aku lagi belajar bahasanya dan baca buku berbahasa yang sama. Dia semangat banget ngobrol-ngobrol lantes ngenalin aku sama temen ceweknya si Shaked (untung bukan Shakednya tuh di sini yah hehe). Mantap lah, dalam hati gua. Lumayan buat saling bantu ngambilin foto. Ternyata jadi temen juga bisa kontak-kontak sampe sekarang.
Selagi seru-serunya ngobrol, gua rasanya denger ada orang yang lagi ngomong pake bahasa Indonesia. Penasaran nih gua. Celingukan ke kanan kiri depan belakang, ketemu juga deh sumber suara mistis itu hahah. Ternyata di belakang gua ada empat gadis jelita dari Jawa Barat. Hmm jangan-jangan mereka itu jelmaan bidadari yang diintip jaka tingkir itu yah (halah, drama banget ya gak sih). Akhirnya kami ngobrol-ngobrol juga di bis. Aku kasih tau ke si GL (temen timteng yg sebangku sama gua itu) kalau kami sama-sama dari Indonesia. Dia berdecak kagum, katanya mereka kiyut-kiyut. Wakaka. Gak ada yang secantik itu di negaranya. Bahh. Yang bener aja bro. Bukannya cewek-cewek timteng tuh cantiknya gak ketulungan. Gak usah jauh-jauh deh. Shaked aja kece halilintar. Tapi ya gakpapa lah, namanya juga opini, khan jujur punya.
Bis kami sempat terhenti dua kali! Ada apa gerangan? Kisahnya di bagian selanjutnya...
Part 19-- Nyusun rencana ke Chu Chi tunnel
Habis balik dari begadangan sama anak-anak muda penuh harapan (cemas), gua ngobrol bentar sama si Quang. Gua nanya-nanya tentang pilihan ke Chu chi (bacanya Kuchi ituloh kayak film bollywood yang diperankan Sharukh Khan, ngerti pasti). Dia bilang kalau pesen online ada tawaran promo menarik. Harganya bisa dipotong 'upto' (jangan merengut dulu yah) 50 persen. Lumayan, dalam hati gua. Jadilah gua cari di vindanay.com, beneran. Ada promonya. Paket dibandrol seharga 70.000 Dong. Lumayanlah, secara semuanya diurusin, dijemput segala macem. Tapi kalau misalnya bayar langsung agak mahalan. Aku lupa-lupa inget berapa. Tapi tebakan gua pasti bervariasi dari satu ke yang lainnya. Kisarannya sekitar 120 ribu sampe 150 ribuan. Harga yang menurut gua sangat tidak mahal.
Ada dua syarat kalau mau dapet harga hoki fantastis ke terowongan perang itu. Pertama kayak yang aku sebutin tadi, mesti booking online. Kedua, booking paling lambat semalem sebelumnya. Kalau nggak, silakan rogoh kocek yang lebih dalam. Umumnya, tiap guest house (nama kece/ nama siangnya hostel atau hotel backpacker, kalo malem mawar krik krik) di Vietnam punya layanan buat pesen-pesen paket tur. Menurut pengalaman selama gua disini, cara ini yang paling nyantai dan pas. Harganya gak macem-macem, servisnya oke dan terjamin. Ditambah lagi jaminan nyampe ke tempat wisata aman, pasti dan cepet. Masih ngeyel?
Emang sih, kalo bro/sis punya naluri bule atau bolang kayak di salah satu stasiun TV swasta, kayaknya kaki ini gatel buat nyari jalan atau alternatif sendiri, tul? Dengan motivasi pengen hemat lah, lebih menantang lah, atau banyak alasan mulia yang lainnya. Buat beberapa negara Asia lain kayak Malay atau Singapur atau Thailand bisa banget. Tapi untuk Vietnam, khususnya, justru kebalikan. Layanan tur hotel disini gak maen-maen harga, plus memanjakan pelanggannya. Gua aja ngerasa banget. Mereka komit abiz buat ngembangin pariwisata mereka sebagai uray nadi ekonomi kreatif. Poin gua adalah, selama kita yakin gak kena tipu atau calo dan harganya masuk akal, tebas aja bro/sis. Gak bakal nyesel.
Oh, ya. Paket itu seingat gua buat transport aja yakni biaya bolak balik sama mampir2 ke tempat cindera mata. Buat tiket masuk chu chi ada biaya masuk di sononya 90.000 dong. Gapapa lah yah, sekitaran 45 ribu perak buat jadi saksi sejarah. Dengan duit segitu juga bisa dapet kuliah gratis sehari plus ngeliat dan ngrasain rasanya di medan tempur Viet Cong. Masuk ke terowongan2 gelep nan eksotis gitu.
Jaraknya sekitar 2 jam itu ples isi bensin, berhenti di cindera mata, mampir ke toilet, nyisir lewatin motor yang kayak tawon jumlahnya (sesuatu banget khan). Nah, masih ngeyel cari alternatif? Bisa-bisa bukannya nyampe Chu Chi, tapi masuk kota lain. Secara rute bis di sepanjang 2 jam itu bisa macem-macem. Ditambah lagi letak medan tempur ini di desa yang emang dulunya semi hutan gitu. Cari amannya aja deh. Pesen tiket di layanan tur hostel.
Catatan lainnya, karena kita di medan tempurnya sana lumayan lama, biasanya pulang sore. Terus gak ada kemungkinan buat makan besar, jadi siapin bekal yah bilang ke emak. Tiket transport tidak termasuk makan siang.
Trik seru yang bisa gua saranin, bakalan oke deh kayaknya kalau bro/sis jala teman (emang ikan, dijala?). Gak. Seriusan. Kalau sempet ngobrol2 sama temen sesama tamu hostel, kalau kamu emang mau ke Chu Chi. Khan seru kalo ada barengan. Minimal ada yang bisa fotoin atau diajak foto bareng. Biasanya sih mereka semangat banget kalau tahu kita mau kesana. Jadi kalau kasih tahunya dari awal, kemungkinan besar bisa dapet barengan. Tapi kalau gak, ya gak papa. Kayak cerita gua selanjutnya. Ketemu temen-temen baru di bis dan berujung jalan-jalan bareng di malam tahun baruan yang gak bakalan lupa seumur hidup.
Part 18-- Duduk-duduk gembira (dugem ringan) sama kawan baru
Yeay, jangan neti alias negatif thinking dulu yah. Ini gak seperti yang bro/sis kira. Apalagi buat para pengunjung yang sangat santun nan rupawan/rupawati kayak kalian. Dibesarkan di keluarga baik-baik, menjunjung tinggi moral dan taat pancasila, rajin menabung dan bisa menempatkan diri dengan toleransi. Gak mungkinlah mau nyoba-nyoba nyasar ke dunia gelap-gelapan macam ini. Tenang sob, elu gak sendiri kok. Hahaha. Gua sama temen Malaysia gua yang sepantaran aka Syamil juga ngrasa gitu pas memutuskan kalau kami berempat (Aku, Syamil, Quin dan Chen -- dua cewek gokil dari Taiwan) bakalan pergi ke kafe buat sharing time and hang out. Mungkin kalo di Indonesia konotasi hedonisme melekat banget lah yah sama gambaran orang ke club, trus joged-joged gak karuan, minum-minum terus muntah-muntah sembarangan. Wah, kalo gitu mah gua bisa dicemeti sama ortu, begitu juga Syamil, kan dia muslim sangat taat. Trus? Gimana ceritanya?
Jujur, kalau gua bener-bener sendiri gua gak akan berani nyoba masuk ke club malem gitu. Pasalnya, tar gua celingukan kayak orang ilang. Belum lagi gua gak tau mau ngapain, gak juga sure berapa duit yang bakalan dihabisin. Satu lagi gua khan guru, manalah boleh ke tempat gituan. (Ngomong-ngomong, itu dulu sebelum gua 'ngeh' kalau kafe malam gitu gak melulu buat hal-hal negatif dan hedonis). Nah, berhubung kali ini berempat dan lumayan asyik, kami beneran masuk and explore dunia baru yg seru.
Sedari masuk gua perhatiin Chen sama sohibnya si Quinn hepi banget, relaks n enjoy. Nah gua 'berusaha' riang dan nikmati suasana. Si Syamil pucat pasi dan grogi punya. Terus tanya punya tanya ini adalah pertama kalinya dia masuk ke kafe kayak gini. Aku senyum aja... Kami memastikan sama dia kalau it's gonna be fine. Beberapa menit duduk-duduk, kami belajar kalau kafe ini lumayan sip. Orang-orangnya gak norak, berdandan anggun n sewajarnya. Servisnya mantap: waitress yang bersahabat dan pinter, coz ramah dan mengerti bahasa Inggris dengan fasih.
Ditambah lagi, sama hoki n aura kegokilan kami yang memukau. Hahah. Buktinya baru juga dua menit kami nongkrong, live musicnya mulai disetting. Surprise. Karena kami gak nyangka kalau malem ini bakalan ada musik live lima langkah dari rumah, ehh salah, dari meja kami. Tentunya kami penasaran dunk musik apakah yang bakalan dimainin. Bukannya tanpa alasan, secara dua hari disini kami udah terbiasa dengerin nada suara orang Vietnam yang sengau dan melengking menggoda hati. Gubrakk.
Tapi ternyata itu semua salah. Nih cewek en cowok nyanyinya hebaatt banget. Inggrisnya jagoo sis. Kami seolah-olah lagi nonton konser langsung American Idol. Sumprit.. Bagus banget. Kami angguk-angguk (ditempat duduk) mengikuti beat n melodi lagu-lagu legendaris dari negeri Hollywood itu. Memuaskan banget pengalaman itu. Selama musik juga gak ada yang aneh-aneh kok. Maksudku gak ada yang goyang-goyang dumang, or itik or goyang lele. Hahaha. Semuanya manis2 n joged2 ditempat duduk masing2, termasuk gua, syamil dan dua cewek temen facebook gua itu.
Kalau bro/sis orangnya seru gokil dan berani nyoba keluar zona nyaman, di bagian timur Benh Tanh jalan aja terus sampe ketemu jalan kecil, disitu banyak tempat nongkrong seru punya. Kalau bisa yang ada live musicnya, pasti tak terlupakan.
BTW, kalau urusan minuman, jangan kuatir. Aku sendiri minum Mojita, sejenis cocktail yang kadar alkoholnya gak berlebihan. Quinn sama Chen pesen bir dan mereka sehat waalfiat sampe kunjungan kelar. Syamil.... Hmmm... Bisa tebak kan? Coca Cola. Heheheh. Bagus, Syam. You got it! Hehee. Malam yang seru. Syering (sharing cuy, gak usah lebay deh jadi orang) yang seru. Musik yang seru di kota yang seru, Saigon. Selanjutnya, siap-siap menerobos masuk terowongan perang Vietnam. Deg deg serr euy.
Part 17 -- Ngebolang di Rimba kota Saigon
Sejujurnya banyak banget yang bisa kita kunjungin di kota komersil Vietnam ini. Nah, masalahnya beda orang beda rezeki (eh, tuh kan ngelantur sendiri). Maksud gua beda orang beda pilihan. Misalnya nih ya, ada yang bela-belain dateng ke negara di pantai selatan Tiongkok ini cuman demi dua potong jeans (ngledek Syamil nih ceritanya). Tapi yah gakpapa sih yah, suka-suka orang secara itu kan visi en misinya mereka. Sama juga pas bro ato sis baca kisah-kisah fantastis (hueekkk) di blog ini, boleh-boleh aja dijadiin acuan tapi kawan-kawan boleh pilih versi kalian masing-masing yang pas sama gaya lo. Kalau pilihan gua ada setidaknya tiga kriteria nih, jujur-jujuran (pake gaya yang semeyakinkan tukang jual jins di pasar Cinde):
1. Em u mu er a rah. Yep bener. Murah. Secara prinsip ekonomi gitu kan. Irit tapi elit. Wakakaka. Ngapain coba buang-buang duit di negara orang kalau pengalaman dan keseruan yang didapet gak worth it (nyolot nih). Sebisanya keluarin duit dengan syarat ada nilai yang bisa diperoleh, ada persahabatan yang dijaga, ada intrik-intrik jalan-jalan seru yang mencuat. Ada sesi adu tawar yang sadis dan gak masuk akal. Semua itu bakalan jadi poin tersendiri yang bisa jadi bonus buat kamu inget pas pulang entar. Eits, tapi bukan berarti itu karena kepepet kehabisan duit yah (modus aka alibi) tapi masalah efiaiensi behh efisiensi aja. Boleh lah sesekali ke kafe borju n ngobrol-ngobrol sama orang 'berkelas' atau nginep di hotel yang oke punya, ya kali bela-belain cari yang murah tapi ujung-ujungnya sengsara kayak bawang merah di dongeng itu. Lebih baik cari yang harga kece, pulang senang. Caranya? Baca-baca buku, rekomendasi atau apalah yang bisa bro/sis jadiin acuan pas tar disana. Dengan begitu gak bakalan nyesek setelah sadar, habis jalan-jalan tagihan membludak. Aku harap pas habis baca celotehan ini dan beberapa bagian di belakang entar, bro/sis bakalan nemuin inspirasi dan ide-ide gokil buat memaksimalkan bajet (budget, keles) yang kamu punya. Tempat-tempat murah di saigon ada di seputaran pasar tradisional di sebelah barat Benh Tanh, jalan lurus terus. Kedai2 ala a*fama*t gitu agak kemahalan broo, justru gua saranin ke supermarket atau mall aja, malah gokil soalnya pake harga lokal. Makanan juga berlimpah di radius 2 km area Benh Tanh. Kalau mau cari yang halal dan murah cari kampung India atau Arab di bagian timur, Benh Tanh jalan lurus. Ati-ati aja yah nyebrangnya.
2. Gaul. Yep. Jalan-jalan bin travelling adalah kesempatan yang gak ada duanya buat membuka diri dan mendapat temen, ilmu dan energi baru buat ngejalanin hidup. Balik dari travelling, nothing's gonna be the same. Kamu bakal dapet perspektif baru, inspirasi baru, bahkan pacar baru, dompet baru atau gelang baru (hahaha true, ya gak). Emang sih gak segampang itu lantaran beberapa orang tipenya shy shy cat (malu-malu kuciang, wkkwkkw). Tapi gak ada salahnya kok belajar, tabrak aja: sksd, ngobrol ngibril. Kadang lancar, kadang krik krik. Tapi kan lebih baik dicoba daripada gak sama sekali. Tahan gengsi dan malu dikit tapi dampaknya seumur hidup: dapet kenalan Vietnam ato bule. Sedikit tips buat mulai percakapan nih ya, "Hey, how are you doing?" atau "Where are you from?" kalo ketemu bule. Atau "Are you working around here?" kalo ketemu uwong Viet. Menurut pengalaman, itu kalimat pembuka yang mujarab buat memulai percakapan yang berujung persahabatan. Tips buat cari hostel yang gaul tuh dari baca reviewnya alias komennya di bawah deskripsi hotel. Kalau skornya 8 ke atas tuh udah nunjukin banget tuh. Hostel dengan ranjang banyak (dorm) dan campur bisa jadi ajang ngobrol dan sosialita yang asik kece. Cobain deh. Terus di Vietnam banyak taman-taman, terutama taman yang di bundaran Benh Tanh itu cucok bingit buat kenalan, rehat, maen internet, sepak takraw, jemur kaos kaki, salto, apa aja deh... (asal gak jualan batu akik aja.. Oops, no offense yah buat para trader, wkwkk).
3. Gokil. Didefinisikan sebagai keadaan yang seru, yang cuman ada di Saigon. Tentunya ini bicara tentang arsitektur kece, sejarah yang bikin emak sama engkong nangis, makanan-makanan yang rasanya surgawi, mas-mas dan mbak-mbak yang kece badai, hawa sejuk di bulan Desember-Januari dan pilihan destinasi yang bisa dijangkau dengan jalan kaki. So, yep. Ambil tasmu, bbm-an sama konco-konco buat rencanain trip Vietnam kamu. Alright?
